Asmaul Husna

Hikmah Al-Quran

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Al-Azhab:35

Monday, June 7, 2010

Belajar Dari sebatang pohon



“Mas lihat pohon Jambu yang kemarin Mas pangkas ujungnya ini……” Kata Ki Pandu sambil menunjukan pohon Jambu didepan Masjid.

Dengan segera Saya memperhatikan pohon yang dimaksud.

“Ada apa dengan pohon Jambu ini ki….?” Tanya Saya sejurus kemudian.

“Mas perhatikan daun-daun pohon Jambu ini, ini adalah dedaunan baru setelah Mas pangkas ujungnya beberapa waktu lalu……” Kata Ki Pandu lagi

“Iya Ki, dedaunan ini tumbuh lagi, dan justru sekarang nampak lebih rimbun dan sehat…..” Kata Saya sambil memperhatikan daun muda yang tampak tumbuh subur diantara dahan-dahan yang juga nampak bermunculan diantara batang pohon Jambu.

“Mas melihat ‘sesuatu’ dari tumbuhnya dedaunan dan dahan baru ini….?” Tanya Ki Pandu.

Saya diam sejenak….”Apa ya ki…?” Katanya Kemudian.

“Dalam kehidupan, kita sering kali mengalami berbagai hambatan, rintangan, atau bahkan tidak jarang kita bertemu dengan mereka yang ‘memotong’ jalan kita dengan berbagai alas an…….” Kata Ki Pandu.

“Lalu ki…?” Tanya Saya lagi.

“Lalu ketika kita tidak siap, kita sering gagap dalam ketika jalan kita terpotong dengan tiba-tiba, tidak demikian halnya dengan mereka yang siap menghadapinya….” Kata Ki Pandu.

“Ana masih belum paham benar ki…..” Kata Saya lagi.

“Begini Mas, secara fitrah setiap kita ingin hidup, tumbuh dan berkembang setinggi dan sebesar mungkin, hanya kadang keinginan kita itu terbentur pada suatu hal, sehingga kita tidak bisa mencapainya, misalnya seorang karyawan tentu bercita-cita dapat menduduki posisi tertinggi ditempat mana ia bekerja, seperti menjadi seorang manager…..,

“Tapi tidak semua orang bisa tiba diposisi yang diinginkannya….,mungkin karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut atau karena hal lainya……; seperti pohon Jambu ini, secara alamiah, pohon ini akan tumbuh keatas……” Kata Ki Pandu.
Saya kembali memperhatikan pohon Jambu didepannya;

“Orang lemah, akan mengalami depresi, frustasi, stress, patah arang atau bahkan kehilangan arah ketika tujuannya tidak tercapai…., sebaliknya orang bijak dan kuat, akan seperti pohon Jambu ini, ketika pucuknya ditebang, pohon ini akan tetap tumbuh dan bahkan lebih berkembang dengan dahan-dahan baru yang bermunculan setelah ujungnya dipangkas……, orang bijak dan kuat, akan dengan secara mencari dan menemukan tempat, cara dan berbagai potensi lain yang ia miliki, untuk tetap tumbuh, berkembang dan menghasilkan…….., Mas mengerti yang Aki maksud…..? ” Kata Ki Pandu.

“Ana mengerti ki…, ketika kita tidak bisa menjadi manager ditempat kerja kita, kita bisa berdagang, berwiraswasta, berternak, bercocok tanam, bertani, dan masih banyak jalan untuk meneruskan dan merajut kehidupan kita, bukan begitu ki…” Kata Saya.

“Benar Mas, hanya kadang cara pandang kebanyakan orang terlalu sempit, hanya tertuju pada satu jalan saja, sehingga mereka tidak dapat melihat berbagai jalan dan pintu yang Allah bentangkan didepannya…..” Kata Ki Pandu lagi, sambil mengajak Saya menuju serambi masjid lagi.

“Seperti Masjid ini Mas, masjid ini memiliki banyak pintu, ada dipintu depan, pintu samping kiri dan samping kanan….., kita bisa memilih dari pintu mana kita masuk dan keluar, kita tidak perlu memaksa masuk atau keluar dari pintu yang terkunci…, karena kalaupun kita paksakan masuk atau keluar dari pintu yang terkunci, tenaga dan waktu yang kita perlukan untuk membuka pintu itu jauh lebih banyak daripada kita memilih pintu kiri atau kanan yang tidak terkunci…….” Kata Ki Pandu.

“Seperti pepatah mengatakan ‘banyak jalan menuju roma’ ya ki……” Kata Saya.

“Ya Mas, banyak jalan menuju roma, banyak jalan untuk menuju kebahagian, banyak jalan untuk menjemput rezeki Allah, banyak jalan menyongsong masa depan yang lebih baik, banyak jalan menuju puncak keberhasilan…., syaratnya kita tidak boleh putus asa, tidak boleh picik, tidak boleh berkecil hati, dan satu lagi,kita harus memiliki ‘akar’ yang kuat…..” Kata Ki Pandu.

“Kita harus memiliki akar yang kuat ki….?” Tanya Saya.

“Benar Mas, pohon Jambu tadi, bisa tetap bertahan hidup, tumbuh, berkembang dan bahkan memiliki lebih banyak dahan dan ranting setelah ujungnya ditebang adalah karena pohon Jambu itu masih memiliki akar, pohon Jambu itu, niscaya akan mati dengan segera setelah ditebang, jika pohon itu tidak memiliki akar yang kuat….., dan akar yang kuat bagi kita sebagai manuasia adalah akidah yang kokoh, keyakinan yang kuat, keimanan yang teguh kepada Allah swt, kita harus beriman sepenuhnya bahwa apa yang telah, tengah dan akan terjadi pada kita, semuanya telah tertulis dalam kitab Allah….., kitapun mesti mengimani bahwa Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi kapasitas kemampuan kita, kita pun harus meyakini bahwa dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan…., keyakinan dan keimanan yang kokoh itulah yang akan mampu menopang kita untuk tetap bertahan hidup, tumbuh dan berkembang, meskipun kita menghadapi berbagai rintangan dan cobaan…….” Kata Ki Pandu lagi.

Saya manggut-manggut menyimak petuah Ki Pandu;

“Mas lihat gunung Merapi itu….” Kata Ki Pandu sambil menunjuk kearah gunung Merapi yang nampak tinggi menjulang dikejauhan.

Saya segera mengarahkan pandangannya kearah yang ditunjuk gurunya;

“Gunung itu nampak sangat tinggi dari sini, dan kalau kita hanya membayangkan ketinggiannya saja, niscaya kita akan takut…., tapi ketika kita kesana untuk mendakinya, niscaya kesulitan yang kita hadapi, jauh lebih ringan dari ketakutan yang kita bayangkan….., dan satu lagi, setinggi apapun gunung, pasti dibaliknya ada turunan yang melandai……..” papar Ki Pandu.

“Iya Ki……, kadang kita takut dengan bayang-bayang terlebih dahulu, sebelum kita tahu dan menjalani kondisi yang sebenarnya……..” Kata Saya.

“Ketakutan dan kecemasan memang bagian dari kita Mas, dan sebaik-baik cara untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan itu, kita harus melihat dan menjalaninya dengan penuh keyakinan, dengan penuh kesabaran, dengan penuh kepasrahan kepada Allah swt…….” Kata Ki Pandu lagi.

“Iya ki….., ana mengerti…..” Kata Saya sambil kembali memperhatikan pohon Jambu didepan masjid, yang mengajarinya untuk tidak berputus asa ketika satu jalan tertutup, Saya kemudian memalingkan pandangannya pada pintu-pintu masjid yang banyak, yang mengajarinya untuk dapat memilih jalan dan pintu mana yang lebih maslahat, serta menatap gunung dikejauhan yang mengajarinya untuk tidak takut dengan ‘ketinggian’ dan rintangan….;

“Subhanallah betapa banyak ayat_Mu yang selama ini hamba abaikan ya Allah….” SAYA berkata dalam hati.

Wassalam

Mencintai sejantan ‘Ali

Kisah pertama ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah. Chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”


Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn
’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.


Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.


”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama,mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..

Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..

Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.


”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”


Cinta tak pernah meminta untuk menanti.Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.



Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa,seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq,sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan,sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?

Dan lebih dari itu,’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.


Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.

Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.

Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya.

Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.

”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.

Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau
ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.


Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.


Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?


”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”


’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.
Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.


Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung.

Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak.
Itu resiko.

Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.


”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar t***l! T***l!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”


Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.


Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.Sekarang.

Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati.
Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”


Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.

Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)
Fathimah berkata kepada ‘Ali,“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu” Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kisah ini disampaikan disini, bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an

Kisah ini disampaikan agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu

Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba.

copas from Reynalds Al-Ghurabaa'
original source: http://asmafadhillah.webnode.com/

Saturday, June 5, 2010

Pengunjung Terakhir Akan Datang

Sungguh! Ia tak datang karena haus akan hartamu, karena ingin ikut nimbrung makan, minum bersamamu, meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, memintamu memberikan rekomendasi kepada seseorang atau untuk memuluskan upaya yang tidak mampu ia lakukan sendiri.!! Pengunjung ini datang untuk misi penting dan terbatas serta dalam masalah terbatas. Kamu dan keluargamu bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menolaknya dalam merealisasikan misinya tersebut!

Kalau pun kamu tinggal di istana-istana yang menjulang, berlindung di benteng-benteng yang kokoh dan di menara-menara yang kuat, mendapatkan penjagaan dan pengamanan yang super ketat, kamu tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menuntaskan urusannya denganmu!!

Untuk menemuimu, ia tidak butuh pintu masuk, izin, dan membuat perjanjian terlebih dahulu sebelum datang. Ia datang kapan saja waktunya dan dalam kondisi bagaimanapun; dalam kondisimu sedang sibuk ataupun sedang luang, sedang sehat ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang dalam kondisi melarat, ketika kamu sedang bepergian atau pun tinggal di tempatmu.!!

Saudaraku! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang gampang luluh. Ia tidak bisa terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan perantara yang menolongmu. Ia tidak akan memberimu kesempatan untuk mengevaluasi perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali perkaramu! Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak berarti apa-apa baginya dan tidak membuatnya mundur dari tujuannya!

Sungguh! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain! Ia menginginkanmu seutuhnya bukan separoh badanmu! Ia ingin membinasakanmu! Ia ingin kematian dan mencabut nyawamu! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu! Dia lah malaikat maut!!! Alloh subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS: As-Sajadah: 11)

Dan firman-Nya, yang artinya: “Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS: Al-An’am: 61)

Kereta Usia

Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti? Tahukah kamu bahwa kita semua akan menjadi musafir ke tempat ini? Sang musafir hampir mencapai tujuannya dan mengekang kendaraannya untuk berhenti? Tahukah kamu bahwa perputaran kehidupan hampir akan terhenti dan ‘kereta usia’ sudah mendekati rute terakhirnya? Sebagian orang shalih mendengar tangisan seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, “Aneh, kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musafir lain yang sudah sampai ke tempat tinggalnya?”

Berhati-hatilah!

Semoga anda tidak termasuk orang yang Alloh subhanahu wata’ala sebutkan, artinya: “Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?” (QS: Muhammad: 27) Atau firman-Nya, yang artinya: “(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun.” (Malaikat menjawab), “Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. “Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombong-kan diri itu.” (QS: An-Nahl: 28-29)

Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu? Menyudahi aktivitasmu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?

Tahukah kamu, setelah kunjungan-nya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan shalat dua raka’at? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitab-Nya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa sehari? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?

‘Kontrak’ amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu!!

Alloh subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia).” Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS: Al-Mu’minun: 99-100)

Persiapkan Dirimu!

Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut? Mana persiapanmu menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Alloh Al-Jabbar? Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasululloh shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, yang artinya: “Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak ada penerjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih sial darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Karena itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik.” (Muttafaqun ‘alaih)

Berhitunglah Atas Dirimu!

Saudaraku, berhitunglah atas dirimu di saat senggangmu, berpikirlah betapa cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di masa luangmu untuk masa sulit dan kebutuhanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu pekerjaan yang kelak akan didiktekan di lembaran amalmu.

Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan? Apakah ia dapat menyelamatkanmu dari cobaan dan huru-hara itu? Sungguh, tidak! Kamu akan meninggalkannya untuk orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang tidak akan memberikan toleransi padamu!

(Sumber Rujukan: Az-Zâ’ir Al-Akhîr karya Khalid bin Abu Shalih)

Sunday, March 21, 2010

[Curhatan para pria] alasan kenapa wanita harus berjilbab

Bismillaahirrahmaanirrahim.

sekedar sharing dari curhatan kawan.
kebetulan sama pemikirannya seperti saya.
:)

Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.

Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas “Tank Top”, noleh ke kiri pemandangan “Pinggul terbuka”, menghindar kekanan ada sajian “Celana ketat plus You Can See”, balik ke belakang dihadang oleh “Dada menantang!” Astaghfirullah… kemana lagi mata ini harus memandang?

Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran “ngeres” dan hatipun menjadi keras.
Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.

Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih… dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? Yaitunya: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!

Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya “lelaki” bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini.

Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.

Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya…? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya.
Allah Taala telah berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur : 30-31).

Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggung jawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan? kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.

Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan?

So, berjilbablah … karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, canti, mempersona dan tentunya sejuk dimata!

Saturday, February 27, 2010

Bahaya Ghazwul Fikri ! ( Perang Pemikiran )

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Perang. Siapa yang suka perang? Normalnya manusia tidak suka. Apalagi kaum ibu. Tapi ada saja pihak-pihak yang dengan sengaja mengobarkan perang karena maksud-maksud menguasai pihak-pihak yang ingin dikuasai. Dewasa ini perang tidak hanya menggunakan senjata fisik seperti bedil dan tombak. Dewasa ini perangnya bahkan lebih berbahaya karena yang mengobarkan perang justru menyembunyikan aktifitasnya dengan berbagai bungkus sehingga musuh yang diperangi tidak sadar sedang diperangi. Tujuannya tetap sama, yaitu mengalahkan dan menguasai musuh, hanya caranya yang berubah drastis.

Perang yang kita bicarakan ini adalah yang sangat konsepsional, sangat luas bidangnya, sangat lihai dalam memilih cara sehingga tidak disadari musuh, sangat jauh dampaknya kepada jiwa lawan dan sangat lama masa berlangsungnya. Ghazwul Fikri. Secara bahasa artinya perang pemikiran. Ada yang mengistilahkan dengan perang urat syaraf.

Perang ini baru muncul sekitar awal abad duapuluh dan merupakan upaya musuh-musuh untuk menjatuhkan kekuatan Islam secara tuntas. Ghazwul fikri dilaksanakan dengan cara melakukan dua tipudaya dasar yang disusupkan dalam fikrah (pemikiran) ummat Islam. Tiga tipudaya tersebut adalah takhwif (usaha untuk menimbulkan rasa takut kepada selain Allah), dan tadl-lil (usaha pengkaburan berbagai konsepsi dalam fikrah Islami). Adapun bentuk-bentuk upayanya dapat sangat beragam, antara lain:

- dengan berbagai opini sesat di media dan di tengah masyarakat muslim

- melalui film, sandiwara, pertunjukan seni, maupun lirik-lirik lagu yang dikemas indah

- melalui berbagai bentuk fiksi baik fiksi murni, fiksi ilmiah, cerita komik, cerita drama sampai cerita anak

- melalui berbagai sandiwara politik dan peristiwa seperti sandiwara Holocaust dimasa Perang Dunia II dan lain-lain

- melalui berbagai acara ilmiah yang mempertontonkan berbagai kecanggihan militer dan intelijen mereka

- melalui penyebaran berbagai adat kebiasaan non-Islam yang dipromosikan dan dikemas dengan berbagai keindahan dan kemeriahan

Mungkin masih banyak lagi cara-cara dan media perang mereka yang kita belum tahu, namun intinya tetap sama. Ini perang sungguhan dan ini perang yang curang.

Kecurangan yang paling nyata adalah dalam cara mereka bersembunyi ketika menyerang. Berbagai film-film menarik yang bahkan dinobatkan (oleh mereka sendiri) sebagai film-film terbaik, ternyata di dalam film itu ada berbagai propaganda anti Islam yang menusuk.

Promosi berbagai perayaan adat jahiliyah yang dikemas sedemikian rupa sebagai “warisan pelecehan terhadap nilai-nilai tinggi Islam. Misalnya di Mesir, digencarkan promosi kebudayaan Mesir kuno zaman Fir’aun, lengkap dengan segala atributnya dan berbagai upacara penyembahan berhala, itu semua bertujuan tersembunyi agar masyarakat Mesir yang kini Muslim mulai meninggalkan nilai-nilai Islam dan kembali bangga dengan nilai-nilai zaman Fir’aun.

Cobalah simak program-program sebuah channel tv khusus tentang berbagai kebudayaan dari tv berlangganan. Bahkan cd-cdnya dijual di toko cd.
Lalu untuk apa rubrik ini membicarakannya? Agaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa justru perang itu (Ghazwul Fikri) sangat tidak disadari di negeri ini. Para penjaga Benteng Terakhir negeri ini (baca: kaum ibu) apakah sadar bahwa setiap hari mereka dicekoki racun-racun Ghazwul Fikri lewat kotak kaca yang menjadi hiburan wajib setiap rumahtangga? Apakah para Penjaga Benteng Terakhir masih saja rela membelikan racun telinga dan jiwa bagi putra-putri mereka yang berbentuk berbagai format lagu, yang seolah wajib kini selalu hadir menghiasi pendengaran putra-putri kita dua-puluh-empat jam? 24 jam? Ya! Tidak jarang putra-putri kita belajar sampai tertidur tetap memasang alat mantra tersebut ke kuping mereka!

Mantra! Memang seperti mantra, boleh jadi lagu yang dipasang langsung ke telinga dapat mempengaruhi jiwa anak kita lewat kata-kata yang terdengar maupun tidak terdengar dari lagu tersebut. Efeknya bisa sampai seperti mantra. Seperti orang terhipnotis. Masih ingat fenomena Kurt Cobain musisi metal dari ujung Utara bumi yang membuat lagu tentang bunuh diri dan kemudian melaksanakannya? Kemudian jejak langkahnya diikuti oleh beberapa orang penggemarnya. Tersihir!

Tahukah para Penjaga Benteng Terakhir bahwa brainwashing atau cuci otak dapat terjadi dengan cara seseorang terus menerus mendengarkan kata-kata yang sama berulang-ulang, yang apalagi jika dikemas dengan nada-nada musik dan dentingan alat musik akan semakin memperkuat efeknya karena akan masuk ke bagian otak yang tanpa nalar? Jika seseorang sudah gandrung dengan suatu lagu, niscaya dia akan mendengarkannya berulang-ulang dan tak jarang mendengarkannya sambil sangat relaks yang berarti masuk ke tingkat kesadaran yang bisa dengan mudah disurupi jin?

Tanyakan pada para ahli ruqyah syar’iyyah (para terapis yang mempunyai ketrampilan mengobati orang kesurupan). Apakah para ibu muslimah dan para remaja penikmat lagu selalu mengerti apa yang dinyanyikan dalam lirik lagu kegemaran mereka? Banyak sekali yang mengaku tidak memperhatikan makna lagu, yang penting enak mengelus gendang telinga, meskipun kadang sebenarnya mudah saja mempelajari lirik lagu tersebut, tapi jarang yang secara serius mencoba mencari apa makna sebenarnya. Paling jauh sebagian besar penikmat lagu hanya mengingat arti dari bagian-bagian tertentu dari lagu tersebut, terutama kalau dianggap cocok. Misalnya refrain yang meneriakkan kata-kata pujian cinta atau patah hati.

Di era menjelang tahun 80-an, era kami-kami yang kepala empat masih remaja, ada lagu dari sebuah grup musik Queen yang berjudul Bohemian Raphsody. Lagu yang diteriakkan oleh Freddy Mercury yang minta disuntik mati karena AIDS tersebut, seluruh isinya adalah pelecehan terhadap nilai-nilai Islam, bahkan sampai penolakan atas takdir (“ sometimes ‘ wished I’ve never been born before”). Lagu ini dulu termasuk Hit, bahkan bertahan masih digemari hingga kini.

Masih ingat lagu berbahasa spanyol yang sempat ketahuan ternyata berbicara tentang iblis? Grup musik Last Ketchup yang melantunkan lagu tersebut bahkan mengakui tak faham isi lagunya karena berbahasa kuno. Itu mantra setan!

Masih-kah para Penjaga Benteng Terakhir merasa masa kini sudah tak ada lagi perang dan karenanya boleh bersantai dalam menjaga bentengnya? Masihkah kita menyangka bahwa zaman sudah berubah dan kini musuh-musuh Islam sudah beristirahat dari memerangi kita? Lihatlah ke sekeliling, dan lihatlah dengan teliti. Wallahua’lam. (SAN)

Sumber diambil: http://www.eramuslim.com/syariah/benteng-terakhir/perang-itu-namanya-ghazwul-fikri.htm

The Importance of Manners

Hadith - Bukhari's Book of Manners #271, Abu Dawud, Tirmidhi, Ahmad, and Ibn Hibban.

...Abu Darda' reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "Nothing is weightier on the Scale of Deeds than one's good manners."

Hadith - Bukhari's Book of Manners #286 and Ahmad

Abu Huraira, r.a., said, "I heard Abu al Qasim (the Prophet saaws), say, 'The best among you in Islam are those with the best manners, so long as they develop a sense of understanding.' "

Hadith - At-Tabaraanee collected it, and Albani authenticated it in Silsilatul-AHaadeethis-Saheehah (#432).

The Prophet (saaws) said: "The most beloved of Allah's servants to Allah are those with the best manners."

Hadith - Sahih Bukhari, Muslim, and Tirmidhi

... 'Abd Allah ibn 'Amr said, "The Prophet of Allah, upon him be peace, was never obscene or coarse. Rather, he used to tell us that the best among us were those with the best manners."

Hadith - Sahih Bukhari, Muslim and Ahmad

... Anas said, "I served the Prophet of Allah, upon him be peace, for ten years. During that time, he never once said to me as much as 'Oof' if I did something wrong. He never asked me, if I had failed to do something, 'Why did you not do it?,' and he never said to me, if I had done something wrong, 'Why did you do it?' "

Hadith - Bukhari's Book of Manners # 285, Hakim, and Abu Dawud

... Abu Huraira, r.a., said that the Prophet of Allah, saaws, said, "If one has good manners, one may attain the same level of merit as those who spend their nights in prayer."

Hadith - Bukhari's Book of Manners # 290, Tirmidhi, Ibn Majah, and Ahmad

... Abu Hurairah reported that the Prophet of Allah (saaws) said, "And what is most likely to send people to Paradise? Being conscious of Allah and good manners."

Hadith - Bukhari's Book of Manners # 296, Muslim, Tirmidhi, Darimi, Abu 'Awanah, Hakim, and Ibn Hibban.

... Nawas ibn Sam'an reported that the Prophet of Allah, saaws, was asked about doing good and evil. He replied, "Doing good is having good manners. Doing evil is what troubles you inside and what you would not like others to know about."

Hadith - Bukhari's Book of Manners #360, Abu Dawud, Tirmidhi, and Hakim

The Prophet of Allah, saaws, said, "He who does not show mercy to our young or show esteem for our elders is not one of us."



The sin of finding faults in others


Hadith - Bukhari's Book of Manners #313, Ahmad, Ibn Hibban, and Hakim

... 'Abd Allah reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "A believer is not a fault-finder and is not abusive, obscene, or course."

Hadith - Bukhari's Book of Manners #329

... Ibn 'Abbas said, "If you wish to mention the faults of your friend, mention your own faults first."

Hadith - Bukhari's Book of Manners #330

... Ibn 'Abbas said on the following verse of the Qur'an, "Nor defame one another" (49:11), "Do not spend your time finding fault with one another."

Hadith - Bukhari's Book of Manners #545

Jubayr ibn Nufayr reported that Mu'adh ibn Jabal said, "If you love someone, do not quarrel with him and do not annoy him. Do not ask others about him, for the one you ask might be his enemy and thus tell you things about him that are not true and thus break you apart."

Hadith - Bukhari's Book of Manners #889 and Ibn Hibban

'Amr ibn al 'As said, "...I am amazed at one who spots an impurity in the eye of another but is unable to detect it in his/her own eye, or who attempts to remove a grudge from another's heart while making no attempt to remove grduges from his/her own heart. I have never blamed anyone for the confidences of mine that they have betrayed. How could I, when already they have given me reason for pause?"

Hadith - Bukhari's Book of Manners #1295

Bilal ibn Sa'd al Ash'ari reported that Mu'awiyah wrote to Abu Darda' "Write to the wrongdoers of Damascus." So he asked, "What do I have to do with the wrongdoers of Damascus? How will I know them?" Abu Darda's son, Bilal said, "I will write to them," which he did. Then Abu Darda' said [to Bilal], "How did you know to whom to write? You could not have known they were wrongdoers unless you were one of them. Begin with yourself!" So he did not address the letter in anyone's name.*

*i.e. he didn't single out a specific person as a wrongdoer, but spoke about wrongdoings in general, to come as a reminder (of Quran and Sunnah) to the people.



Group Conversations


Hadith - Sahih Bukhari, Muslim, Abu Dawud, and Ibn Majah

'Abd Allah ibn Mas'ud reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "If they are three, two of them should not carry on a conversation from which the third is excluded, for surely that will be distressing to him."

Hadith - Bukhari's Book of Manners, Abu Dawud. Ibn Hibban classified the hadith as authentic.

Ibn 'Umar reported the same from the Prophet, upon him be peace. Except that in the end, he added, "We asked, 'If they are four?' He, upon him be peace, said, 'Then there is no harm.' "



Beware of Suspicion


Hadith - Sahih Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidhi, Ibn Majah, Ahmad, and Ibn Hibban

Abu Huraira, r.a., reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "Be careful of suspicion, for it is the most mistaken of all speech. Do not spy on others, compete* among yourselves, envy one another, or despise one another. Rather, be servants of Allah and brothers!"

*There is nothing wrong with healthy competition, particularly in doing good deeds. This hadith refers to competion that destroys team play and equality, etc.)

Hadith - Bukhari's Book of Manners #1294

'Abd Allah said, "Sometimes a victim of robbery will become so suspicious [of everyone around him] that he will become worse than the thief."*

*In other words, his suspicions will lead him to doubt everyone until he has destroyed every one of his relationships.

It is permissible to call over a person and inform them of the facts, so that they will not be suspicious, as we see in the following hadith (narration).

Hadith - Bukhari's Book of Manners #1293, Muslim and Abu Dawud

Anas reported that a man passed by while the Prophet of Allah, upon him be peace, was with one of his wives. The Prophet called the man and said, 'O So and so. This is my wife, so and so." The man replied, What I might have thought about another, I would never think about you." The Prophet, upon him be peace, said, "Shaytan [satan] will circulate through a person just like blood circulates [through one's veins]."



Give Gifts


Hadith - Bukhari's Book of Manners #594, also related by Abu Ya'la and by Nasa'i in al Kuna.

Abu Huraira, r.a., reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "Give gifts to one another, and you will love one another."

Hadith - Sahih Bukhari, Muslim, Nasa'i and Tirmidhi

Ibn Abi Mas'ud al Badri reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "Anyone who spends money on his family and seeks blessings for doing so will find it counted as sadaqah (charity) on his behalf."



Have a sense of shame/shyness

(not being shy from doing good, but shyness from doing wrong)


Hadith - Sahih Bukhari, Abu Dawud, Ibn Majah, Ibn Hibban, and Ahmad

Abu Mus'ud reported that the Prophet of Allah, saaws, said, "Among the well-known wisdom of the prophets is the saying, 'If you have no shame, then do as you please.' "

Hadith - Sahih Bukhari, Muslim, Nasa'i, Abu Dawud, Ibn Majah, and Tabarani

Abu Huraira, r.a., reported that the Prophet, saaws, said, "... Having a sense of shame is one branch of faith."

Hadith - Sahih Bukhari, Muslim and Ibn Majah

'Abd Allah ibn Abi 'Atabah said that he heard Abu Sa'id say, "The Prophet of Allah, upon him be peace, was shyer than a virgin in her shift. Whenever he disliked something, we could see it on his face."



The sin of Pride


Hadith - Bukhari's Book of Manners #550

Abu Huraira, r.a., reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "Whoever eats with his servant, or rides a donkey in the marketplace, or who ties up his goat and milks it will no be guilty of the sin of pride.

Hadith - Bukhari's Book of Manners #556, Abu Dawud and Tirmidhi

Abu Huraira, r.a., reported that a handsome man went to the Prophet of Allah, upon him be peace, and said, "I love beauty, and I have been given what you see, even to the extent of my hating to be bested. Is that pride?" The Prophet replied, "No. Rather, pride is to disdain the truth and to treat others with contempt."

Kepada Kaum Adam yang Belum Menikah...

 Bismillahirrohmaanirrohiim..

Mungkin kalian sedang tertarik ataupun tak dapat menahan pesona kalian terhadap cantiknya perempuan2x disekitar kalian dan memaksa diri kalian untuk menikahi salah satu dari mereka, namun kesiapan kalian belum memadai untuk itu. Namun, janganlah dengan keadaan demikian, kalian menjadikan mereka berharap kepadamu dan mengizinkan mereka menunggumu, ketahuilah menunggu merupakan penderitaan bagi seorang wanita. Biarkanlah mereka menikah dan bertemu dengan jodohnya masing-masing tanpa terhalang dengan penantiannya terhadap dirimu di pada waktu yang tidak pasti. Yakinlah, jika saat ini saja begitu banyak yang mempesonakanmu, bukankah di suatu saat nanti ketika usiamu telah bertambah dan engkau telah siap maka Rahasia-rahasia Allah tentang seseorang yang lebih mempesonakanmu akan dipertemukan kepadamu dan engkau mendapatinya di tempat yang diberkahi dan penuh Rahmat, Pernikahan. Ingatlah, apakah Allah akan menyia-nyiakan usaha seseorang dalam menjaga dirinya? Insya Allah tidak, karena Allah tidak menyia-nyiakan perbuatan baik bagi hamba-hambaNya.
Insya Allah
Allahu Akbar!

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Al-Azhab:35

Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Al-Kahfi:30

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
Ali Imran:133

Insya Allah
Semoga Allah Memaafkan aku Ketika aku Bersalah
Allahuma Amiin

Extra Hati2 Untuk Para Wanita

Assalamualaikum Warahmatullah

Sekarang kudu ekstra hati2 di jalan.
Soalnya sekarang ada modus baru pemerkosaan terhadap wanita.

Yang terjadi seperti ini, seorang wanita (akhwat) melihat ada seorang anak kecil dijalanan sedang menangis. Merasa kasihan, ia menanyakan apa yg terjadi pada anak tersebut.

Si akhwat : (Menghampiri si anak kecil & sambil membungkuk bertanya) "Ada apa, De'? Kok Ade' nangis? Mamanya mana?? "
Si Anak Kecil : (Sambil nangis) "Aku tersesat, bisa anter aku pulang gak?" (Lalu anak kecil itu memberikan selembar kertas yg berisikan alamat rumahnya).

Karena akhwat itu termasuk orang yg baik hati dan tidak menaruh curiga apa2, ia membawa anak tersebut ke alamat yg tertera. Ketika tiba di rumah anak kecil itu, ia menekan bel, tiba2 ia kaget karena bel tersebut bertegangan tinggi dan lalu pingsan. Ketika ia terbangun pada hari berikutnya, ia mendapati dirinya dalam keadaan telanjang dalam sebuah rumah kosong. Ia tidak pernah melihat wajah penyerangnya.

Itulah sebabnya sekarang ini penindak kriminal mencari sasaran pada akhwat2 yg cepat empati & tdk hati-hati.
Jadi, jika terjadi masalah seperti ini :

JANGAN PERNAH MEMBAWA ANAK KECIL TERSEBUT KE TEMPAT YG DIMINTA. JIKA MASIH TERUS DIDESAK, BAWALAH ANAK TERSEBUT KE KANTOR POLISI TERDEKAT. ATAU MINTA TOLONG PADA IKHWAN. :D

Tolong ingatkan kepada teman2 kalian semua terutama yg akhwat, istri, adik perempuan. HARAP EKSTRA BER-HATI2.

Tolong, informasikan kedua hal di atas kepada setiap Perempuan yang anda kenal! karena MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA SUDAH KEJADIAN !!

Adab Interaksi

MENGENDALIKAN SYAHWAT

“Jangan kamu dekat-dekat pada perzinaan, karena sesung-guhnya dia itu perbuatan yang kotor dan cara yang sangat tidak baik.” (QS. Al-Isra’:32)

Sahl bin Sa’d berkata: Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang menjamin untukku apa yang ada diantara dua janggutnya dan dua kakinya maka aku menjamin untuknya sorga.” (HR. Bukhari)

MENJAGA KEMALUAN

Adab berpakaian dalam Islam :

1. Hendaknya ikhwan menahan seluruh auratnya dan demikian juga dengan akhwat.

“Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangan-nya dan menjaga kemaluannya; karena yang demikian itu lebih bersih bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahameneliti terhadap apa-apa yang kamu kerjakan. (An-Nur : 30)

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah Menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda Kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf 7:26)

Tidak boleh menggunakan pakaian yang membentuk dan tipis sehingga menampilkan aurat.

“Sesungguhnya termasuk ahli neraka, yaitu perempuan-perempuan berpakaian tetapi telanjang, yang condong kepada maksiat dan menarik orang lain untuk berbuat maksiat. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya.” (Riwayat Muslim)

2. Tidak berpakaian dengan maksud sombong

Rasulullah saw. bersabda: Allah tidak melihat dengan pan-dangan rahmat terhadap orang yang menurunkan sarung lebih dari mata kaki karena sombong.” (HR. Bukhari, Muslim)

3. Ikhwan tidak menyerupai akhwat dan demikian sebaliknya

Rasulullah saw. pernah menghitung orang-orang yang dilaknat di dunia ini dan disambut juga oleh Malaikat di antaranya ialah laki-laki yang memang oleh Allah dijadikan betul-betul laki-laki, tetapi dia menjadikan dirinya sebagai perempuan dan menyerupai perempuan, dan yang kedua, ialah perempuan yang memang dicipta oleh Allah sebagai perempuan betul-betul, tetapi kemudian dia menjadikan dirinya sebagai laki-laki dan menyerupai laki-laki (HR. Thabarani)

4. Ikhwan tidak menggunakan perhiasan emas dan sutra

Umar bin Alkhotthob r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Kamu jangan memakai sutra. Maka siapa yang memakainya di dunia, tidak akan memakainya di akherat. (Bukhari, Muslim)

Anas r.a. berkata: Rasulullah saw. telah mengizinkan bagi Azzubair dan Abdurrahman bin Auf memakai sutra karena keduanya menderita sakit gatal-gatal. (Bukhari, Muslim)

Tujuannya adalah untuk pendidikan moral yang tinggi demi menjaga sifat keperwiraan laki-laki dari segala bentuk kelemahan serta untuk memberantas sifat bermewah-mewah.

5. Tidak berpakaian seperti pakaian spesialis yang dipakai oleh orang-orang kafir seperti Yahudi, Kristen dan penyembah-penyembah berhala. Ummat ini baik yang laki-laki ataupun perempuan harus mempunyai ciri-ciri tersendiri baik dalam hal-hal yang nampak maupun tersembunyi.

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia itu dari golongan mereka.” (Riwayat Thabrani)

MENJAGA PANDANGAN

Adab pergaulan dalam Islam :

1. Pergaulan hendaknya diniatkan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat 49:13)

2. Hendaknya ikhwan menahan sebagian pandangannya dan demikian juga dengan akhwat.

Hendaklah menundukkan pandangan dari apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Karena pandangan dapat membangkitkan nafsu birahi dan merangsang pelakunya untuk terjerumus ke dalam dosa dan ma’shiat. Oleh karena itu Al-Qur’an memberikan peringatan keras terhadap pandangan liar.

“Katakanlah kepada orang-orang Mu’min : “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; dan demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An Nur [24]:30)

Sabda Rasulullah saw :

“Pandangan itu merupakan salah satu anak panah iblis”

Dua mata itu berzina dan zinanya mata ialah melihat” (HR. Bukhari)

Salah satu keringanan Islam adalah Dia membolehkan melihat yang sifatnya mendadak pada bahagian yang seharusnya tidak boleh.

“Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah saw. tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi: Palingkanlah pandanganmu itu!” (HR. Muslim)

“Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

Perempuan melihat laki-laki tidak pada auratnya, hukumnya mubah, selama tidak diikuti dengan syahwat atau tidak dikuatirkan akan menimbulkan fitnah.

Sebagian ulama yang extrimis menganggap, bahwa perempuan sama sekali tidak boleh melihat anggota laki-laki yang manapun. Mereka membawa dalil hadis yang diriwayatkan oleh Nabhan bekas hamba Ummu Salamah, bahwa Rasulullah saw. pernah berkata kepada Ummu Salamah dan Maimunah yang waktu itu Ibnu Ummi Maktum masuk ke rumahnya. Nabi bersabda : pakailah tabir. Kemudian kedua isteri Nabi itu berkata: “Dia (Ibnu Ummi Maktum) itu buta!” Maka jawab Nabi: “Apakah kalau dia buta, kamu juga buta? Bukankah kamu berdua melihatnya?”

Tetapi dari kalangan ahli tahqiq (orang-orang yang ahli dalam penyelidikannya terhadap suatu hadits/pendapat) mengatakan: Hadis ini tidak sah menurut ahli-ahli Hadis, karena Nabhan yang meriwayatkan Hadis ini salah seorang yang omongannya tidak dapat diterima.

Kalau ditakdirkan hadis ini sahih, adalah suatu sikap kerasnya Nabi kepada isteri-isterinya karena kemuliaan mereka, sebagaimana beliau bersikap keras dalam persoalan hijab.

3. Ikhwan tidak memegang akhwat dan demikian sebaliknya

Rasulullah saw. pernah bersabda sbb: “Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik daripada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya.” (Riwayat Thabarani, baihaqi dan rawi-rawinya thabarani adalah kepercayaan)

Jauhi saja perempuan/laki-laki yang tidak menjaga adab ini.

4. Ikhwan dan akhwat harus menjaga jarak; sebaiknya sebatas dimana mereka tidak mencium wewangian dari lawan jenisnya

“Siapa saja perempuan yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka perempuan tersebut dianggap berzina; dan tiap-tiap mata ada zinanya.” (Riwayat Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

5. Tidak “berdua-duaan” baik dalam zhahir maupun batin.

Sebaiknya jika hendak melakukan pertemuan yang cukup lama, ikhwan membawa teman ikhwannya dan akhwat pun membawa teman akhwatnya. Teman disini ditujukan agar dapat mengingatkan jika dia bergaul melewati batas.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah saitan.” (Riwayat Ahmad)

6. Segala bentuk pergaulan jika membangkitkan nafsu syahwat, maka itu adalah haram

MAHRAM

Laki-laki hanya boleh melihat muka dan kedua telapak tangan perempuan yang memang ada rukhsah untuk dinampakkan. Larangan ini dikecuali-kan untuk 12 orang :

1. Suami

2. Ayah, baik dari pihak ayah ataupun ibu

3. Ayah mertua

4. Anak-anak laki-lakinya. Termasuk juga cucu, baik dari anak laki-laki ataupun dari anak perempuan

5. Anak-anaknya suami.

6. Saudara laki-laki, baik sekandung, sebapa atau seibu

7. Keponakan.

8. Sesama perempuan yang seagama baik yang ada kaitannya dengan nasab ataupun orang lain

9. Hamba sahaya

10. Keponakan dari saudara perempuan

11. Orang-orang yang ikut serumah yang tidak ada rasa bersyahwat

12. Anak-anak kecil yang tidak mungkin bersyahwat ketika melihat aurat perempuan

WARNING: Syahwat Lawan Jenis

Belakangan ini saya banyak diskusi dengan istri tentang gejala "syahwat lawan jenis". Istri saya termasuk akhwat yang cukup "cerewet" soal gejala-gejala tidak sehat mengenai perilaku hubungan antara ikhwan dan akhwat. "Jangan sampai menjadi perusak masa depan dakwah kita..!", demikian hujjah balighah yang kerap meluncur dari dirinya kepada saya. Dan ketika saya meresponnya dengan kalem, pressure pun muncul. "Abi kan mas”ul kaderisasi. Abi tanggung jawab kalau nanti terjadi apa-apa pada dakwah ini ?!!"

Sesaat saya akan menulis kolom ini, istri saya baru melontarkan serangan barunya, Abi denger nih.. Ummi dapet berita shahih kalau ada Mas’ul dakwah kampus pacarin 11 akhwat, dan 4 diantaranya ternyata hamil?!! " Saya mencoba merespon dengan santai - karena sedang mikir tema apa yang harus ditulis - dengan mengatakan agar berita itu ditabayyun (cros check) dulu. Tetapi justru saya disergah : "Ya tugas abi dong yang harus men-tabayyun ! Abi kan punya akses dan kewenangan !". Saya mencoba mulai menulis. Tetapi belum lagi ketemu tema tulisan, saya dibombardir oleh pertanyaan lain :"Bi emang bener ustadz Fulan nikah lagi, dan sebelumnya pake pacaran segala?"

Alhasil, tanpa diniatkan sebelumnya akhirnya saya menulis tema ini. Kebetulan sehari sebelumnya saya mendapatkan short massage service (sms) dari seorang akh yang mengomentari tulisan saya berjudul "SMS". Komentarnya berterima kasih atas tulisan tersebut, karena memang itulah fenomena yang terjadi di lapangan. Pikir saya, biarlah sekalian menulis tema yang lebih "serem" sebagai tadzkirah. Fadzakir inna adz-adzikara tanfa’ul mu’minin!.

Pertama, saya mencoba merenungi kembali dasar masalah "syahwat lawan jenis". Nabi Adam as diciptakan Allah SWT sebagai manusia pertama dan satu-satunya pada saat itu. Beliau ditempatkan di dalam syurga yang penuh kenikmatan tak terhingga. Tetapi apa yang terjadi ? Nabi Adam merasa "kurang nikmat" menikmati kenikmatan syurga seorang diri. Ia menginginkan seorang wanita. Lalu apa yang terjadi ? Nabi Adam dan istrinya tertipu oleh syaitan sehingga melanggar prinsip-prinsip “syahwat lawan jenis” yang diatur oleh Allah SWT. Perhatikan firman Allah : "Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh syetan sebagaimana halnya dia (syeitan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari syurga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya"(QS. Al A'raaf:27).

Nabi Adam dan istrinya merintis kehidupan baru komunitas manusia di muka bumi dengan berbekal ampunan dan hidayah Allah SWT. Tetapi apa yang kemudian dicatat oleh sejarah? Kejahatan pertama di muka bumi adalah perebutan dua orang laki-laki terhadap seorang wanita, dan berakhir dengn aksi pembunuhan. "Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya (Habil) , kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka terjadilah dia termasuk orang yang merugi" (QS. Al-Maidah : 30).

Lalu sejarah umat dan bangsa-bangsa menunjukkan bagaimana kehancuran di banyak peradaban mereka justru karena "syahwat lawan jenis" . Rasulullah SAW pernah berpesan : "Sesungguhnya dunia ini manis dan menyegarkan? Maka takutlah kepada wanita, karena cobaan yang pertama terhadap Bani Israil ialah karena wanita." (Al Jami’ Ash-Shagir, 2/179).

Jadi dasar dari semua masalah ini adalah dahsyatnya dorongan dan pengaruh yang muncul dari "syahwat lawan jenis", yang tidak ada seorang manusia pun bisa membebaskan diri darinya. Bahkan seperti yang diungkapkan Rasulullah, ia manis dan menyegarkan. Atau seperti ungkapan Allah, ia dipandang indah dan menyenangkan. "Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadaap syahwat berupa wanita"(QS Ali Imran :14)

Allah tentu saja menjadikan "syahwat lawan jenis" sebagai unsur kekuatan manusia dalam membangun kehidupan dan peradabannya. Dengan syahwat inilah, manusia menyuburkan nilai rasa, emosi, kasih dan cinta agar kehidupan dunia "manis dan menyegarkan" . Dengan syahwat ini, manusia memiliki dorongan untuk "hidup bersama" dalam ikatan perkawinan dan keluarga agar leluasa mengekspresikan luapan rasa, emosi, kasih dan cintanya sampai dalam bentuk hubungan seksual. Dengan syahwat inilah, keluarga-keluarga menghasilkan anak-keturunannya untuk menyempurnakan kesenangan, kebahagiaan, dan kebanggaan. Dengan syahwat ini pula, manusia membangun norma, etika, adat, estetika dan syari?at yang mampu memelihara dan mengkokohkan unsur kekuatan yang sangat mendasar sifatnya ini, tanpa menyebabkan kerusakan dari kerusakan dan kehancuran tata kehidupan sosialnya.

Kita adalah umat dakwah. Sekumpulan orang yang mengemban misi untuk mengajak dan membimbing manusia kepada kehidupan yang baik. Agar mereka bisa mengelola syahwat lawan jenisnya secara benar dan baik, sehingga kebaikan dan keberlangsungan peradabannya bisa terjaga. Kita mendakwahi mereka kepada syari?at yang membimbing syahwat lawan jenis secara benar. Tentu saja bukan sekedar dengan kata-kata, tetapi juga dengan teladan amal. Bahwa kader-kader dakwah - yang semoga dipelihara Allah SWT - secara konsisten berkomitmen menjalankan syari?at ini. Dan manusia menyaksikan kebenaran syari?at bukan dari kata-kata kita, tetapi dari apa yang kita amalkan. Apa yang perlu menjadi perhatian dan keprihatinan kita saat ini Saya sebutkan saja satu per satu berbagai gejala yang saya dengar dan saya lihat sendiri.

(1) Adab ikhwan dan akhwat mulai bergeser ke arah yang membuka celah syahwat lawan jenis. Berbicara tatap-muka dengan jarak yang dekat dan sering bertatapan mata, misalnya. Atau komunikasi lewat telpon dengan irama suara yang membuat seorang ikhwan ?menikmati? suara akhwat lawan bicaranya.

(2) Keterdesakan atau keterpaksaaan yang menggiring kepada suatu yang "tidak boleh terjadi !". Misalnya akhwat "terpaksa" dibonceng motor oleh ikhwan gara-gara rapat baru selesai malam hari, dan jalan menuju halte bus atau rumahnya cukup jauh serta "tidak aman". Atau rapat dalam satu ruangan yang "sempit" sehingga ikhwan dan akhwat duduk berdampingan tanpa jarak yang aman atau tanpa hijab. Dalam forum-forum seperti ini, akhwat tidak membiasakan diri bicara dengan tegas dan lugas. Ingat suara wanita adalah aurat!

(3) Bergesernya mode pakaian akhwat yang “mengundang” pandangan syahwat kaum ikhwan. Mulai dari jilbab yang "kependekan" sehingga tidak menutup dadanya dengan sempurna atau bila tertiup angin bisa menampakan bagian leher dan rambut belakangnya. Lalu bahan pakaian yang "lebih tipis" dan pilihan warna yang "flamboyan". Atau menggunalkan sepatu berhak "cukup tinggi", sehingga mengundang perhatian pada langkah dan pinggul belakang akhwat.

(4) Bergesernya nilai seni Islam dari senandung jihad dan iman kepada senandung hiburan semata. Lalu mulai muncul akhwat-akhwat yang menggemari "munsyid" (penyanyi) daripada "nasyid"-nya.

(5) Keterbukaan pergaulan dakwah antara ikhwan dan akhwat menggiring prefensi memilih jodoh kepada apa yang menarik dari "pandangan mata" dan bukan menarik dari "pandangan dakwah". Akibarnya, semangat mencari jodoh sendiri begitu menggebu, dan murabbi tinggal menunggu konfirmasi.

(6) Konsultasi dakwah masalah pribadi atau rumah tangga yang kemudian berbuah simpati sampai jatuh hati. Tidak sedikit seorang da’i yang berawal dari semangat dakwah terhadap lawan jenis justru berubah arah menjadi ajang "perselingkuhan" baru. Alih-alih membantu menyelesaikan masalah malah menambah masalah. Ada satu dua ustadz yang menikah (lagi) dengan "wanita" yang semula menjadi "pasien" dakwahnya. Rupanya ustadz ikut ketularan penyakit pasiennya.

(7) Semangat menikah (lagi) melalui prosedur resmi, tetapi dimulai dengan hubungan "ala pacaran" Dalihnya sederhana, "wanita calon istri" kan harus dikenalkan dulu dengan istri pertama dan anak-anaknya.

(8) Ketidakmampuan membina kehidupan suami-istri yang selalu “menggairahkan” beralih kepada semangat “mencari yang baru”. Sebagai sebab dari ketidakmampuan ini adalah qillatul-ilmi (sedikit ilmu) tetang seni berumah tangga dan seni mengolah cinta.

(9) Sebagian kecil ikhwan mulai memasuki usia 40, dan katanya ini fase "recycling" dengan dalih "life started at fourty" hidup dimulai dari usia 40 tahun. Aktualisasinya adalah muncul ?kegenitan? jilid kedua.

(10) Masih ada lagi, tetapi saya cukupkan saja dulu. Mari merenung!!

oleh: ust. Mahfudz Siddiq
Sumber : Majalah SAKSI No 11 Tahun VII