Asmaul Husna

Hikmah Al-Quran

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Al-Azhab:35
Showing posts with label Pemikiran. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran. Show all posts

Sunday, March 21, 2010

[Curhatan para pria] alasan kenapa wanita harus berjilbab

Bismillaahirrahmaanirrahim.

sekedar sharing dari curhatan kawan.
kebetulan sama pemikirannya seperti saya.
:)

Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.

Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas “Tank Top”, noleh ke kiri pemandangan “Pinggul terbuka”, menghindar kekanan ada sajian “Celana ketat plus You Can See”, balik ke belakang dihadang oleh “Dada menantang!” Astaghfirullah… kemana lagi mata ini harus memandang?

Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran “ngeres” dan hatipun menjadi keras.
Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.

Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih… dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? Yaitunya: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!

Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya “lelaki” bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini.

Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.

Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya…? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya.
Allah Taala telah berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur : 30-31).

Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggung jawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan? kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.

Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan?

So, berjilbablah … karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, canti, mempersona dan tentunya sejuk dimata!

Saturday, February 27, 2010

The Importance of Manners

Hadith - Bukhari's Book of Manners #271, Abu Dawud, Tirmidhi, Ahmad, and Ibn Hibban.

...Abu Darda' reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "Nothing is weightier on the Scale of Deeds than one's good manners."

Hadith - Bukhari's Book of Manners #286 and Ahmad

Abu Huraira, r.a., said, "I heard Abu al Qasim (the Prophet saaws), say, 'The best among you in Islam are those with the best manners, so long as they develop a sense of understanding.' "

Hadith - At-Tabaraanee collected it, and Albani authenticated it in Silsilatul-AHaadeethis-Saheehah (#432).

The Prophet (saaws) said: "The most beloved of Allah's servants to Allah are those with the best manners."

Hadith - Sahih Bukhari, Muslim, and Tirmidhi

... 'Abd Allah ibn 'Amr said, "The Prophet of Allah, upon him be peace, was never obscene or coarse. Rather, he used to tell us that the best among us were those with the best manners."

Hadith - Sahih Bukhari, Muslim and Ahmad

... Anas said, "I served the Prophet of Allah, upon him be peace, for ten years. During that time, he never once said to me as much as 'Oof' if I did something wrong. He never asked me, if I had failed to do something, 'Why did you not do it?,' and he never said to me, if I had done something wrong, 'Why did you do it?' "

Hadith - Bukhari's Book of Manners # 285, Hakim, and Abu Dawud

... Abu Huraira, r.a., said that the Prophet of Allah, saaws, said, "If one has good manners, one may attain the same level of merit as those who spend their nights in prayer."

Hadith - Bukhari's Book of Manners # 290, Tirmidhi, Ibn Majah, and Ahmad

... Abu Hurairah reported that the Prophet of Allah (saaws) said, "And what is most likely to send people to Paradise? Being conscious of Allah and good manners."

Hadith - Bukhari's Book of Manners # 296, Muslim, Tirmidhi, Darimi, Abu 'Awanah, Hakim, and Ibn Hibban.

... Nawas ibn Sam'an reported that the Prophet of Allah, saaws, was asked about doing good and evil. He replied, "Doing good is having good manners. Doing evil is what troubles you inside and what you would not like others to know about."

Hadith - Bukhari's Book of Manners #360, Abu Dawud, Tirmidhi, and Hakim

The Prophet of Allah, saaws, said, "He who does not show mercy to our young or show esteem for our elders is not one of us."



The sin of finding faults in others


Hadith - Bukhari's Book of Manners #313, Ahmad, Ibn Hibban, and Hakim

... 'Abd Allah reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "A believer is not a fault-finder and is not abusive, obscene, or course."

Hadith - Bukhari's Book of Manners #329

... Ibn 'Abbas said, "If you wish to mention the faults of your friend, mention your own faults first."

Hadith - Bukhari's Book of Manners #330

... Ibn 'Abbas said on the following verse of the Qur'an, "Nor defame one another" (49:11), "Do not spend your time finding fault with one another."

Hadith - Bukhari's Book of Manners #545

Jubayr ibn Nufayr reported that Mu'adh ibn Jabal said, "If you love someone, do not quarrel with him and do not annoy him. Do not ask others about him, for the one you ask might be his enemy and thus tell you things about him that are not true and thus break you apart."

Hadith - Bukhari's Book of Manners #889 and Ibn Hibban

'Amr ibn al 'As said, "...I am amazed at one who spots an impurity in the eye of another but is unable to detect it in his/her own eye, or who attempts to remove a grudge from another's heart while making no attempt to remove grduges from his/her own heart. I have never blamed anyone for the confidences of mine that they have betrayed. How could I, when already they have given me reason for pause?"

Hadith - Bukhari's Book of Manners #1295

Bilal ibn Sa'd al Ash'ari reported that Mu'awiyah wrote to Abu Darda' "Write to the wrongdoers of Damascus." So he asked, "What do I have to do with the wrongdoers of Damascus? How will I know them?" Abu Darda's son, Bilal said, "I will write to them," which he did. Then Abu Darda' said [to Bilal], "How did you know to whom to write? You could not have known they were wrongdoers unless you were one of them. Begin with yourself!" So he did not address the letter in anyone's name.*

*i.e. he didn't single out a specific person as a wrongdoer, but spoke about wrongdoings in general, to come as a reminder (of Quran and Sunnah) to the people.



Group Conversations


Hadith - Sahih Bukhari, Muslim, Abu Dawud, and Ibn Majah

'Abd Allah ibn Mas'ud reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "If they are three, two of them should not carry on a conversation from which the third is excluded, for surely that will be distressing to him."

Hadith - Bukhari's Book of Manners, Abu Dawud. Ibn Hibban classified the hadith as authentic.

Ibn 'Umar reported the same from the Prophet, upon him be peace. Except that in the end, he added, "We asked, 'If they are four?' He, upon him be peace, said, 'Then there is no harm.' "



Beware of Suspicion


Hadith - Sahih Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidhi, Ibn Majah, Ahmad, and Ibn Hibban

Abu Huraira, r.a., reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "Be careful of suspicion, for it is the most mistaken of all speech. Do not spy on others, compete* among yourselves, envy one another, or despise one another. Rather, be servants of Allah and brothers!"

*There is nothing wrong with healthy competition, particularly in doing good deeds. This hadith refers to competion that destroys team play and equality, etc.)

Hadith - Bukhari's Book of Manners #1294

'Abd Allah said, "Sometimes a victim of robbery will become so suspicious [of everyone around him] that he will become worse than the thief."*

*In other words, his suspicions will lead him to doubt everyone until he has destroyed every one of his relationships.

It is permissible to call over a person and inform them of the facts, so that they will not be suspicious, as we see in the following hadith (narration).

Hadith - Bukhari's Book of Manners #1293, Muslim and Abu Dawud

Anas reported that a man passed by while the Prophet of Allah, upon him be peace, was with one of his wives. The Prophet called the man and said, 'O So and so. This is my wife, so and so." The man replied, What I might have thought about another, I would never think about you." The Prophet, upon him be peace, said, "Shaytan [satan] will circulate through a person just like blood circulates [through one's veins]."



Give Gifts


Hadith - Bukhari's Book of Manners #594, also related by Abu Ya'la and by Nasa'i in al Kuna.

Abu Huraira, r.a., reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "Give gifts to one another, and you will love one another."

Hadith - Sahih Bukhari, Muslim, Nasa'i and Tirmidhi

Ibn Abi Mas'ud al Badri reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "Anyone who spends money on his family and seeks blessings for doing so will find it counted as sadaqah (charity) on his behalf."



Have a sense of shame/shyness

(not being shy from doing good, but shyness from doing wrong)


Hadith - Sahih Bukhari, Abu Dawud, Ibn Majah, Ibn Hibban, and Ahmad

Abu Mus'ud reported that the Prophet of Allah, saaws, said, "Among the well-known wisdom of the prophets is the saying, 'If you have no shame, then do as you please.' "

Hadith - Sahih Bukhari, Muslim, Nasa'i, Abu Dawud, Ibn Majah, and Tabarani

Abu Huraira, r.a., reported that the Prophet, saaws, said, "... Having a sense of shame is one branch of faith."

Hadith - Sahih Bukhari, Muslim and Ibn Majah

'Abd Allah ibn Abi 'Atabah said that he heard Abu Sa'id say, "The Prophet of Allah, upon him be peace, was shyer than a virgin in her shift. Whenever he disliked something, we could see it on his face."



The sin of Pride


Hadith - Bukhari's Book of Manners #550

Abu Huraira, r.a., reported that the Prophet of Allah, upon him be peace, said, "Whoever eats with his servant, or rides a donkey in the marketplace, or who ties up his goat and milks it will no be guilty of the sin of pride.

Hadith - Bukhari's Book of Manners #556, Abu Dawud and Tirmidhi

Abu Huraira, r.a., reported that a handsome man went to the Prophet of Allah, upon him be peace, and said, "I love beauty, and I have been given what you see, even to the extent of my hating to be bested. Is that pride?" The Prophet replied, "No. Rather, pride is to disdain the truth and to treat others with contempt."

Kepada Kaum Adam yang Belum Menikah...

 Bismillahirrohmaanirrohiim..

Mungkin kalian sedang tertarik ataupun tak dapat menahan pesona kalian terhadap cantiknya perempuan2x disekitar kalian dan memaksa diri kalian untuk menikahi salah satu dari mereka, namun kesiapan kalian belum memadai untuk itu. Namun, janganlah dengan keadaan demikian, kalian menjadikan mereka berharap kepadamu dan mengizinkan mereka menunggumu, ketahuilah menunggu merupakan penderitaan bagi seorang wanita. Biarkanlah mereka menikah dan bertemu dengan jodohnya masing-masing tanpa terhalang dengan penantiannya terhadap dirimu di pada waktu yang tidak pasti. Yakinlah, jika saat ini saja begitu banyak yang mempesonakanmu, bukankah di suatu saat nanti ketika usiamu telah bertambah dan engkau telah siap maka Rahasia-rahasia Allah tentang seseorang yang lebih mempesonakanmu akan dipertemukan kepadamu dan engkau mendapatinya di tempat yang diberkahi dan penuh Rahmat, Pernikahan. Ingatlah, apakah Allah akan menyia-nyiakan usaha seseorang dalam menjaga dirinya? Insya Allah tidak, karena Allah tidak menyia-nyiakan perbuatan baik bagi hamba-hambaNya.
Insya Allah
Allahu Akbar!

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Al-Azhab:35

Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Al-Kahfi:30

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
Ali Imran:133

Insya Allah
Semoga Allah Memaafkan aku Ketika aku Bersalah
Allahuma Amiin

WARNING: Syahwat Lawan Jenis

Belakangan ini saya banyak diskusi dengan istri tentang gejala "syahwat lawan jenis". Istri saya termasuk akhwat yang cukup "cerewet" soal gejala-gejala tidak sehat mengenai perilaku hubungan antara ikhwan dan akhwat. "Jangan sampai menjadi perusak masa depan dakwah kita..!", demikian hujjah balighah yang kerap meluncur dari dirinya kepada saya. Dan ketika saya meresponnya dengan kalem, pressure pun muncul. "Abi kan mas”ul kaderisasi. Abi tanggung jawab kalau nanti terjadi apa-apa pada dakwah ini ?!!"

Sesaat saya akan menulis kolom ini, istri saya baru melontarkan serangan barunya, Abi denger nih.. Ummi dapet berita shahih kalau ada Mas’ul dakwah kampus pacarin 11 akhwat, dan 4 diantaranya ternyata hamil?!! " Saya mencoba merespon dengan santai - karena sedang mikir tema apa yang harus ditulis - dengan mengatakan agar berita itu ditabayyun (cros check) dulu. Tetapi justru saya disergah : "Ya tugas abi dong yang harus men-tabayyun ! Abi kan punya akses dan kewenangan !". Saya mencoba mulai menulis. Tetapi belum lagi ketemu tema tulisan, saya dibombardir oleh pertanyaan lain :"Bi emang bener ustadz Fulan nikah lagi, dan sebelumnya pake pacaran segala?"

Alhasil, tanpa diniatkan sebelumnya akhirnya saya menulis tema ini. Kebetulan sehari sebelumnya saya mendapatkan short massage service (sms) dari seorang akh yang mengomentari tulisan saya berjudul "SMS". Komentarnya berterima kasih atas tulisan tersebut, karena memang itulah fenomena yang terjadi di lapangan. Pikir saya, biarlah sekalian menulis tema yang lebih "serem" sebagai tadzkirah. Fadzakir inna adz-adzikara tanfa’ul mu’minin!.

Pertama, saya mencoba merenungi kembali dasar masalah "syahwat lawan jenis". Nabi Adam as diciptakan Allah SWT sebagai manusia pertama dan satu-satunya pada saat itu. Beliau ditempatkan di dalam syurga yang penuh kenikmatan tak terhingga. Tetapi apa yang terjadi ? Nabi Adam merasa "kurang nikmat" menikmati kenikmatan syurga seorang diri. Ia menginginkan seorang wanita. Lalu apa yang terjadi ? Nabi Adam dan istrinya tertipu oleh syaitan sehingga melanggar prinsip-prinsip “syahwat lawan jenis” yang diatur oleh Allah SWT. Perhatikan firman Allah : "Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh syetan sebagaimana halnya dia (syeitan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari syurga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya"(QS. Al A'raaf:27).

Nabi Adam dan istrinya merintis kehidupan baru komunitas manusia di muka bumi dengan berbekal ampunan dan hidayah Allah SWT. Tetapi apa yang kemudian dicatat oleh sejarah? Kejahatan pertama di muka bumi adalah perebutan dua orang laki-laki terhadap seorang wanita, dan berakhir dengn aksi pembunuhan. "Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya (Habil) , kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka terjadilah dia termasuk orang yang merugi" (QS. Al-Maidah : 30).

Lalu sejarah umat dan bangsa-bangsa menunjukkan bagaimana kehancuran di banyak peradaban mereka justru karena "syahwat lawan jenis" . Rasulullah SAW pernah berpesan : "Sesungguhnya dunia ini manis dan menyegarkan? Maka takutlah kepada wanita, karena cobaan yang pertama terhadap Bani Israil ialah karena wanita." (Al Jami’ Ash-Shagir, 2/179).

Jadi dasar dari semua masalah ini adalah dahsyatnya dorongan dan pengaruh yang muncul dari "syahwat lawan jenis", yang tidak ada seorang manusia pun bisa membebaskan diri darinya. Bahkan seperti yang diungkapkan Rasulullah, ia manis dan menyegarkan. Atau seperti ungkapan Allah, ia dipandang indah dan menyenangkan. "Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadaap syahwat berupa wanita"(QS Ali Imran :14)

Allah tentu saja menjadikan "syahwat lawan jenis" sebagai unsur kekuatan manusia dalam membangun kehidupan dan peradabannya. Dengan syahwat inilah, manusia menyuburkan nilai rasa, emosi, kasih dan cinta agar kehidupan dunia "manis dan menyegarkan" . Dengan syahwat ini, manusia memiliki dorongan untuk "hidup bersama" dalam ikatan perkawinan dan keluarga agar leluasa mengekspresikan luapan rasa, emosi, kasih dan cintanya sampai dalam bentuk hubungan seksual. Dengan syahwat inilah, keluarga-keluarga menghasilkan anak-keturunannya untuk menyempurnakan kesenangan, kebahagiaan, dan kebanggaan. Dengan syahwat ini pula, manusia membangun norma, etika, adat, estetika dan syari?at yang mampu memelihara dan mengkokohkan unsur kekuatan yang sangat mendasar sifatnya ini, tanpa menyebabkan kerusakan dari kerusakan dan kehancuran tata kehidupan sosialnya.

Kita adalah umat dakwah. Sekumpulan orang yang mengemban misi untuk mengajak dan membimbing manusia kepada kehidupan yang baik. Agar mereka bisa mengelola syahwat lawan jenisnya secara benar dan baik, sehingga kebaikan dan keberlangsungan peradabannya bisa terjaga. Kita mendakwahi mereka kepada syari?at yang membimbing syahwat lawan jenis secara benar. Tentu saja bukan sekedar dengan kata-kata, tetapi juga dengan teladan amal. Bahwa kader-kader dakwah - yang semoga dipelihara Allah SWT - secara konsisten berkomitmen menjalankan syari?at ini. Dan manusia menyaksikan kebenaran syari?at bukan dari kata-kata kita, tetapi dari apa yang kita amalkan. Apa yang perlu menjadi perhatian dan keprihatinan kita saat ini Saya sebutkan saja satu per satu berbagai gejala yang saya dengar dan saya lihat sendiri.

(1) Adab ikhwan dan akhwat mulai bergeser ke arah yang membuka celah syahwat lawan jenis. Berbicara tatap-muka dengan jarak yang dekat dan sering bertatapan mata, misalnya. Atau komunikasi lewat telpon dengan irama suara yang membuat seorang ikhwan ?menikmati? suara akhwat lawan bicaranya.

(2) Keterdesakan atau keterpaksaaan yang menggiring kepada suatu yang "tidak boleh terjadi !". Misalnya akhwat "terpaksa" dibonceng motor oleh ikhwan gara-gara rapat baru selesai malam hari, dan jalan menuju halte bus atau rumahnya cukup jauh serta "tidak aman". Atau rapat dalam satu ruangan yang "sempit" sehingga ikhwan dan akhwat duduk berdampingan tanpa jarak yang aman atau tanpa hijab. Dalam forum-forum seperti ini, akhwat tidak membiasakan diri bicara dengan tegas dan lugas. Ingat suara wanita adalah aurat!

(3) Bergesernya mode pakaian akhwat yang “mengundang” pandangan syahwat kaum ikhwan. Mulai dari jilbab yang "kependekan" sehingga tidak menutup dadanya dengan sempurna atau bila tertiup angin bisa menampakan bagian leher dan rambut belakangnya. Lalu bahan pakaian yang "lebih tipis" dan pilihan warna yang "flamboyan". Atau menggunalkan sepatu berhak "cukup tinggi", sehingga mengundang perhatian pada langkah dan pinggul belakang akhwat.

(4) Bergesernya nilai seni Islam dari senandung jihad dan iman kepada senandung hiburan semata. Lalu mulai muncul akhwat-akhwat yang menggemari "munsyid" (penyanyi) daripada "nasyid"-nya.

(5) Keterbukaan pergaulan dakwah antara ikhwan dan akhwat menggiring prefensi memilih jodoh kepada apa yang menarik dari "pandangan mata" dan bukan menarik dari "pandangan dakwah". Akibarnya, semangat mencari jodoh sendiri begitu menggebu, dan murabbi tinggal menunggu konfirmasi.

(6) Konsultasi dakwah masalah pribadi atau rumah tangga yang kemudian berbuah simpati sampai jatuh hati. Tidak sedikit seorang da’i yang berawal dari semangat dakwah terhadap lawan jenis justru berubah arah menjadi ajang "perselingkuhan" baru. Alih-alih membantu menyelesaikan masalah malah menambah masalah. Ada satu dua ustadz yang menikah (lagi) dengan "wanita" yang semula menjadi "pasien" dakwahnya. Rupanya ustadz ikut ketularan penyakit pasiennya.

(7) Semangat menikah (lagi) melalui prosedur resmi, tetapi dimulai dengan hubungan "ala pacaran" Dalihnya sederhana, "wanita calon istri" kan harus dikenalkan dulu dengan istri pertama dan anak-anaknya.

(8) Ketidakmampuan membina kehidupan suami-istri yang selalu “menggairahkan” beralih kepada semangat “mencari yang baru”. Sebagai sebab dari ketidakmampuan ini adalah qillatul-ilmi (sedikit ilmu) tetang seni berumah tangga dan seni mengolah cinta.

(9) Sebagian kecil ikhwan mulai memasuki usia 40, dan katanya ini fase "recycling" dengan dalih "life started at fourty" hidup dimulai dari usia 40 tahun. Aktualisasinya adalah muncul ?kegenitan? jilid kedua.

(10) Masih ada lagi, tetapi saya cukupkan saja dulu. Mari merenung!!

oleh: ust. Mahfudz Siddiq
Sumber : Majalah SAKSI No 11 Tahun VII

baca deh, insya allah kalo dihayati anda akan meneteskan air mata..

Satu hal sebagai bahan renungan Kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa

Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak
saudara
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan Kita terbuka....
Tak Ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak Ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok Dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang - lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok Kita....
Itulah jasad Kita waktu itu

Setelah dimandikan.. .,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu ....jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju Kita...
Bagian kepala..,badan. .., Dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah Kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...

Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin...
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan. .yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan

Dan akhirnya.... . Tiba masa pengantin..
Menunggu Dan ditinggal sendirian...
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap - rayap Dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...Dan tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya Kita tak pernah galau ketakutan... ..
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...

Dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke neraka..
Tentunya Kita berharap menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi .....sudah pantaskah sikap kita selama
ini...
Untuk disebut sebagai ahli syurga

Baca jika anda ada waktu untuk ALLAH.
Bacalah hingga habis.
Saya hampir membuang email ini namun saya telah diberi
anugerah untuk membaca terus hingga ke akhir.

ALLAH, bila saya membaca tulisan ini, saya pikir saya
tidak ada waktu untuk ini....
Lebih lebih lagi diwaktu kerja. Kemudian saya tersadar
bahwa pemikiran semacam inilah yang ....
Sebenarnya, menimbulkan pelbagai masalah di dunia
ini.

Kita coba menyimpan ALLAH didalam MASJID pada hari
Jum'at......
Mungkin malam JUM'AT?
Dan sewaktu solat MAGRIB SAJA?
Kita suka ALLAH pada masa kita sakit....
Dan sudah pasti waktu ada kematian...

Walau bagaimanapun kita tidak ada waktu atau ruang
untuk ALLAH waktu bekerja atau bermain?
Karena...
Kita merasakan diwaktu itu kita mampu dan sewajarnya
mengurus sendiri tanpa bergantung padaNYA.
Semoga ALLAH mengampuni aku karena menyangka... ...
Bahwa nun di sana masih ada tempat dan waktu dimana
ALLAH bukan lah yang paling utama dalam hidup ku (nauzubillah)

Kita sepatutnya senantiasa mengenang akan segala yang
telah DIA berikan kepada kita.
DIA telah memberikan segala-galanya kepada kita
sebelum kita meminta.

ALLAH
Dia adalah sumber kewujudanku dan Penyelamatku
IA lah yang mengerakkan ku setiap detik dan hari.
TanpaNYA aku adalah AMPAS yang tak berguna.

Susah vs. Senang
Kenapa susah sekali menyampaikan kebenaran?

Kenapa mengantuk dalam MASJID tetapi ketika selesai
ceramah kita segar kembali?
Kenapa mudah sekali membuang e-mail agama tetapi kita
bangga mem "forward" kan email yang tak senonoh?
Hadiah yang paling istimewa yang pernah kita terima.
Solat adalah yang terbaik.... Tidak perlu bayaran ,
tetapi ganjaran lumayan.
Notes: Tidak kah lucu betapa mudahnya bagi manusia
TIDAK Beriman PADA ALLAH
setelah itu heran kenapakah dunia ini menjadi neraka
bagi mereka.

Tidakkah lucu bila seseorang berkata "AKU BERIMAN PADA
ALLAH" TETAPI SENTIASA MENGIKUT SYAITAN. (who, by the way, also
"believes" in ALLAH ).

Tidakkah lucu bagaimana anda mampu mengirim ribuan
email lawak yang akhirnya tersebar bagai api yang tidak terkendali.,
tetapi bila anda mengirim email mengenai ISLAM, sering orang berpikir 10
kali untuk berkongsi?

Tidakkah mengherankan bagaimana bila anda mulai
mengirim pesan ini anda tidak akan mengirim kepada semua rekan anda
karena memikirkan apa tanggapan mereka terhadap anda atau anda tak pasti
apakah mereka suka atau tidak?.

Tidakkah mengherankan bagaimana anda merasa risau
akan tanggapan orang kepada saya lebih dari tanggapan ALLAH terhadap
anda.

Aku berDOA , untuk semua yang mengirim pesan ini
kepada semua rekan mereka di rahmati ALLAH.

Friday, February 26, 2010

Harapan Kepada "Ikhwan Sepotong"

Bismillahirrahamnirrahiim

Semoga para ikhwan sepotong, sadar bhwa dgn mempermainkan akhwat bkn sekadar mendzolimi akhwatnya melainkan juga menzalimi pradaban, krn wanita adalah tiang negara. Dalam rahim seorang wanita kelak akan melahirkan generasi penerus bangsa, akhlaknya menjadi cerminan awal anaknya kelak. Sedangkan apabila para wanita rusak, maka akan sangat berpengaruh dgn kpribadian para generasi penerus peradaban. (Vera Nurviana)

Hargai siapa yang akan engkau nikahi..

Bismillahirrahmanirrahiim...

Hargailah siapa yang akan engkau nikahi, perihalahan hati untuk memberikan cintamu kepadanya walaupun engkau belum pernah melihat sosoknya sekalipun. Dia pemberian dan Karunia Allah kepadaMu. Dan tentunya dia pasti akan menjadi pendampingmu. Maka Cintailah yang pasti akan menjadi pendampingmu. Karena Cintamu tidak sia-sia ketika mencintainya, lantaran Cintamu itu pasti akan terjadi...
Insya Allah.

Against The Virtual Khalwat

Bismillahirrahmanirrahiiim...
Jikalau mengetahui bahwa lawan jenis merupakan godaan terberat, maka jangan pernah mencoba untuk membuat syaitan menjadikan indah perbuatanmu terhadap sikap mu dan dirinya. Janganlah membuat Kekasih Sejati yang Mencintaimu Cemburu, Karena Dia dapat Cemburu, ketika seorang diri bermaksiat kepada di hadapanNya. Bertaubatlah, karena kekasihmu itu Mencintai orang-orang yang bertaubat dan Mensucikan diri...

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. Al-Araaf:27

Pautkan Cintamu terhadap Saudaramu kepada Keridhaan Allah

Bismillahirrahmanirrahiim...

Katakanlah bahwa kamu mencintai siapapun karena Rabbmu, agar cintamu dan cintanya dapat terpaut kepada Allah, namun, janganlah kamu mengatakannya kepada yang bukan mahrammu, krn bisa jadi bukan hatinya yang terpaut kepada Rabbmu, melainkan hatinya justru terpaut kepada siapa yang mengatakannya. Jika kamu mencintai mereka karena Allah, maka bantulah mereka menjaga kesucian hatinya kepada Rabbnya dan biarkan mereka mengisi hatinya hanya untuk yg halal baginya...